Favorite Girl

“Ayolah sis, kau tahu kan betapa susahnya hanya untuk bertemu dengan dia?”

 

“Baiklah Park Dalyeon, I let you in this time. Just this time. Arrasseo?”

 

* * *

 

Bandara selalu menjadi tempat yang begitu historical menurut Park Dalyeon. Selalu ada perpisahan dan pertemuan yang terjadi di tempat ini, selalu ada tangis haru bahagia atau pedih yang mendalam ketika melihat seseorang yang berarti dalam hidupmu harus pergi melintasi benua dengan waktu yang lama, bahkan selalu ada awal yang baru atau akhir dari segala cerita ketika kau menapakan kakimu di sini. Dan pada hari inilah Park Dalyeon mencoba peruntungannya. Untuk pertama kalinya di tahun ini, ia kembali berada di atmosfer yang tidak asing dari kehidupannya. Orang-orang yang sedang sibuk menggeret tas kopernya untuk mengejar jadwal keberangkatan mereka, orang-orang yang sedang sibuk memainkan iPad ataupun menghirup cairan kental bernama kopi di salah satu kedai kopi paling terkenal di dunia, ataupun beberapa orang yang sedang menunggu orang terdekatnya untuk sampai di Incheon. Semua kejadian itu bergabung menjadi satu dan bahkan jika diandaikan kau berdiri di tengah-tengahnya, tidak akan ada orang yang menghiraukanmu melainkan mereka akan terus sibuk dengan dunia mereka masing-masing.

 

Gadis berambut hitam panjang itu sibuk mencari kakak sepupunya di antara banyak mobil yang terparkir di Bandara Incheon. Perlu waktu beberapa detik hingga ia menyadari seseorang dengan rambut kecokelatan yang harus ia akui terkesan sangat elegan dan fashionable adalah kakak sepupunya sendiri. Bukan karena Park Nami–kakak sepupunya telah menempuh jalur operasi plastik seperti orang Korea kebanyakan, Dalyeon selalu menyadari kecantikan kakak sepupunya ini, hanya saja ia tidak mengira bahwa dalam jangka waktu setahun tiga bulan ia pergi meninggalkan Korea Selatan untuk kuliah di Kota Big Apple, Nami akan berubah total seratus delapan puluh derajat.

 

Nami selalu punya tubuh yang ideal, kulit yang mulus dan putih, dan rambut yang menawan. Satu-satunya masalah yang ada di dalam dirinya hanyalah cara ia berpakaian. Dulu ia sering sekali memakai kemeja bermotif aneh dengan celana jeans kendor ala nenek-nenek atau rok tartan yang sudah terlalu old-fashioned. Tetapi lihatlah ia sekarang, kaos putih tanpa lengan dengan simbol dollar, ripped jeans biru tua, kemeja bermotif baju tentara yang disampirkan di pinggangnya sebagai pemanis dan heels hitam yang menunjang badannya yang sungguh proporsional. Singkatnya, siapapun yang melihat sosoknya akan berhenti sebentar untuk mengagumi dirinya.

 

“Nami eonni! I miss you … a lot.”

 

“Aku merindukanmu lebih dari kau merindukanku, Putri Bulan.”

 

“Berhentilah mengejekku dengan panggilan itu, eonni. It’s irritating.”

 

“Masuklah ke mobil sebelum aku memanggil matahari untuk mengusirmu di kala langit telah gelap.”

 

Dalyeon hanya bisa memegang perutnya karena ia tidak bisa berhenti tertawa mengingat percakapan mereka yang terlalu konyol dan cheesy beberapa detik yang lalu dan masuk ke mobil kakak sepupunya itu. Peruntunganku terlihat cukup bagus sekarang, pikir Park Dalyeon.

 

* * *

 

Bulan Oktober memang bukan bulan yang lazim untuk seorang mahasiswi seperti diriku untuk pulang ke negeri asal mereka masing-masing. Bulan seperti ini harusnya masih disibukkan dengan tugas-tugas yang tidak berhenti diberikan, materi pelajaran menumpuk yang harus kau pahami dalam semalam, ataupun pekerjaan-pekerjaan gila yang harus dilakukan layaknya seorang mahasiswa. Tetapi kali ini berbeda, dosen di bidang kuliahku memutuskan untuk mengosongkan mata kuliahku selama tiga minggu penuh tanpa tugas sama sekali untuk para mahasiswa yang telah menyelesaikan dengan tuntas segala pekerjaan rodi (baca: tugas kuliah) sampai bulan Oktober awal. Oleh sebab itu, aku terlonjak girang dan segera membeli tiket pesawat ke Korea Selatan selagi memiliki kesempatan emas ini.

 

Dalam dua minggu ini, aku akan tinggal di apartemen pribadi milik Nami eonni setiap hari Senin sampai Jumat dan tinggal di rumah orangtuaku pada akhir pekan. Malam ini aku memutuskan untuk menghidangkan makanan kesukaannya yaitu pasta. Selagi aku merebus fettucine dan menjaganya terebus di suhu yang pas, kakak sepupuku duduk di atas kursi sambil melipat kedua tangannya di depan dada dan memperhatikanku serius. Uh-oh, ini bukan pertanda yang baik.

 

“Beritahu aku alasan mengapa kau pulang ke Seoul, New York Girl.”

 

Ia kembali menjadi seorang pewawancara dan drama queen malam ini. Kurasa sebentar lagi aku harus mengecek telingaku ke dokter spesialis berkat ocehannya.

 

“Kau tahu kan betapa hectic-nya jadwal di universitasku? Mereka ingin membuat kami semua kehilangan nafas untuk sekedar bersenang-senang. Aku tidak mungkin melewatkan kesempatan emas ini untuk pulang ke Korea, melepas rindu kepada semua keluarga dan sahabatku di sini. Apakah itu tidak cukup jelas untuk menjawab keingintahuanmu, sis?” jawabku sambil melelehkan cream cheese, mengaduknya dengan susu cair, menambahkan garam serta lada, dan terakhir memasukkan smoked beef yang sudah kupotong dadu dan kuasap sebelumnya.

 

“Dalyeon, aku tahu kau tidak berbohong dengan perkataanmu tadi. Tetapi dari sorot matamu, aku tahu ada satu alasan lagi yang menjadi fokus utamamu untuk pulang ke sini.”

 

“Mengapa kau bertanya jika kau sudah tahu apa yang akan keluar dari mulutku, eon?” ujarku seraya menaruh kedua piring besar berisikan hidangan makan malam kami ke atas meja.

 

“Karena aku ingin mendengarmu mengatakannya sendiri, Dalyeon. Percakapan di telepon saat itu sangatlah singkat ketika kau membujukku. Aku hanya ingin mendengar ketulusan hatimu, sis. Just it.”

 

Aku meneguk air putih yang berada di genggamanku. Mencoba untuk berpikir jernih dan menemukan jawaban dari pertanyaan yang seharusnya sudah tidak kupertanyakan lagi mengapa aku harus menjawabnya. Lidahku seakan kelu hanya untuk mengeluarkan alasan yang sebenarnya tidak kubuat-buat dan langsung berasal dari relung hatiku.

 

“Aku membujukmu untuk mengizinkanku masuk dengan dua kemungkinan yaitu dapat bertemu dengan dia atau kecewa karena ia bahkan tidak dapat menyapaku karena ia sedang dikejar waktu. Kami hilang kontak sejak ia menjadi trainee dan hubungan kami sungguh menyakitkan setelah itu, eon. Kami berdua tidak berani untuk menanyakan kejelasan hubungan kami ataupun mengklarifikasinya. Aku menganggap bahwa ia yang harus menyatakan perasaannya terlebih dahulu tetapi ia selalu mengerti bahwa menurutku pacaran itu merupakan hal yang konyol dan tidak pernah terbayangkan dalam hidupnya. Kami selalu punya perasaan yang sama, eonni. Hanya saja kami selalu mencoba untuk membangun dinding yang membatasi kedekatan kami dan membiarkan dinding itu retak lalu membangunnya lagi kemudian begitu seterusnya.”

 

Aku merindukan sosok itu dan aku butuh penjelasan. Kim Namjoon, neo eodiga?

 

* * *

 

Hari ini, jadwal kami telah usai. Setelah mendatangi wawancara salah satu stasiun televisi, kami segera menuju dorm. Jin hyung terlihat sedang browsing di internet tentang resep-resep makanan sehat yang dapat ia buat di dorm, Suga hyung dan J-Hope hyung sudah terlelap dengan nyenyak, V sedang mengirimkan pesan singkat kepada ibunya, Jimin dan Jungkook mencoba untuk melepaskan penat hari ini dengan memejamkan mata dan menyumbat kedua telinga mereka dengan earphone, sedangkan aku sedang menatap keluar jendela hanya sekedar untuk mengagumi apa yang terlukis di cakrawala yang dicipatakan oleh Sang Pencipta. Langit berwarna hitam yang menawan dan misterius seakan menandakan tidak ada seorangpun yang tahu akan esok hari selain Dia.

 

Tetapi selalu ada satu objek yang selalu kukagumi keindahannya. Sebuah objek yang menawan dan mewah serta tidak pernah menyombongkan dirinya seperti matahari yang selalu menunjukkan bahwa ialah Raja Siang dengan memantulkan cahaya panasnya ke muka bumi. Objek ini berbeda, dia tenang dan teduh. Ia tidak pernah menyombongkan kemewahannya dan lebih memilih untuk menyembunyikan kilauannya di balik langit hitam pekat. Dan walaupun ia bertingkah seperti itu, semua orang menyanjungnya sebagai si Ratu Malam yaitu bulan.

 

Aku menyukai bulan sejak diriku masih kecil. Menurutku bulan itu seperti sesosok sahabat yang menenangkan dan menghibur kala ku sedang jatuh. Seseorang yang sigap menyinari hatiku ketika semua orang melingkupiku dengan aura ‘hitam’. Ia jauh tetapi aku tahu ia selalu ada di sana, menungguiku ketika malam telah tiba.

 

Kadang bulan itu layaknya seorang ibu yang selalu memancarkan sorot mata penyayang, yang akan membelai rambutmu dengan lembut dan mencium pipimu saat engkau menangis. Seseorang yang akan menemanimu hingga hari esok menyambut dengan penuh kejutan.

 

Bukan hanya itu, tetapi bulan selalu mengingatkanku pada sesosok gadis yang selalu menjadi pengharapan dan isi dari ruang hatiku yang telah lama hampa. Dan aku menyukainya seperti aku menyukai bulan. Sekarang aku mulai meragukan kehadirannya di tengah-tengah kegelapan. Park Dalyeon, apakah kau masih setia menunggu di sana?

 

* * *

 

Hari Sabtu adalah hari dimana jiwa dan ragaku hanya ingin bermalas-malasan di atas ranjang sambil memainkan handphone atau mengambil apapun yang ada di dapur sebagai cemilan. Ditambah dengan ranjang double milik Nami eonni yang empuk dan hangat, membuat diriku makin ingin bergelung di dalamnya. Di samping kananku, Nami eonni terlihat sedang sibuk dengan majalah fashion mingguannya. Ia tidak bersenandung atau menggoyangkan kakinya dan itu berarti ia sedang sibuk dan fokus dengan apa yang dilakukannya sekarang. Tetapi sayangnya, aku tidak pernah kapok untuk mengganggu aktifitas favoritnya itu saat satu pertanyaan mulai muncul di benakku karena curhat menggantung via Skype beberapa bulan kemarin.

 

“Seungri masih menghubungimu?”

 

Dia menurunkan majalahnya dan aku mulai menangkap apa yang ada di benaknya bahwa sekarang juga ia ingin melemparkan lampu kecil di sebelahnya ke arahku atau mendorongku ke gunung volcano. Ia mulai menatapku dengan tatapan tolong-jangan-membangkitkan-macan-yang-sedang-tidur.

 

“Tolong jangan bawa masalah itu lagi. Dia seorang entertainer, idola, artis dan semua wanita menginginkan dia. Dia bisa mendapatkan siapapun yang dia mau, Park Dalyeon. Aku hanya salah satu dari berjuta-juta bahkan bermilyar-milyar perempuan di dunia ini yang disukainya. I’m just a PD and I’m nothing in front of him. Dia melakukan itu, menggoda dan merayu karena itu memang kebiasaannya. Aku tidak menyalahkan dia tapi, ah … sudahlah.”

 

“Tapi dia masih meluangkan waktunya untuk mengirimkan pesan ke Kakao Talk-mu sampai sekarang. Demi apapun, apakah kau kira ada idola yang tetap gigih mengirimkan seorang perempuan biasa ucapan selamat malam bahkan ketika perempuan itu tidak pernah membalasnya?”

 

“Kita sedang berbicara tentang Lee Seunghyun, Seungri yang notabenenya maknae Big Bang, sis. Kita tidak pernah bisa menebak isi benak dan hatinya yang sebenarnya.”

 

At least, berbuatlah baik sedikit dengan membalas pesannya.”

 

It makes me look like a desperate woman trying to get attention from an artist. Kau harus mengerti inti dari pembicaraan ini, sis.”

 

“Tidak ada salahnya bergaul dengan artis, kau tahu? Lagipula jika ia menganggap ini permainan, kau bisa main di dalamnya, Park Nami. You’re too stunning to be played. Anggap saja semuanya bukan apa-apa, hanya sekedar tingkat pendekatan ke hubungan selanjutnya tanpa mengharapkan apa-apa.”

 

“Roh iblis-mu mulai keluar, Park Dalyeon. Tapi aku benci untuk mengatakan bahwa idemu tidak buruk juga … sebenarnya,” ujar Nami sambil menutup majalahnya dan meletakkannya di samping ranjang, “jadi bagaimana dengan besok? Kau sudah siap?”

 

“Aku berharap.” Jawabku sambil memainkan jari-jariku dengan setengah hati.

 

“Besok kau hanya perlu mengekorku masuk ke belakang panggung. Di sana, akan ada banyak pintu-pintu yang sudah ditempelkan dengan nama grup masing-masing. Kau hanya perlu mencarinya dan ia pasti ada di dalamnya. Besok kau akan benar-benar sendiri karena aku akan sibuk mengarahkan tim lighting dan tim camera saat pre-recording maupun recording. Kurang lebih jam tujuh pagi, kita sudah harus siap berangkat ke sana. Tepat pukul jam sembilan, saat hampir semua grup sudah di-make-up, persiapkan dirimu untuk mencarinya. Okay?”

 

* * *

 

08.57 KST

 

Jamku seakan berdetak sangat pelan menjelang detik-detik peruntunganku di Korea sekarang. Tiga menit yang rasanya sangat menyiksa seolah membuat darahku mengalir lebih cepat dan membiarkan jantungku berdetak lebih kencang. Mataku mulai melirik ke sana kemari dengan penuh keraguan dan kecemasan. Perutku seakan ingin memuntahkan omelette yang baru tadi pagi kumakan sebagai sarapan saking ketakutannya.

 

Sedari tadi aku hanya menatap pintu berbahan kagu dengan tempelan kertas yang tertulis ‘Bang Tan So Nyeon Dan’ dengan tulisan hangeul berwarna hitam dan menatapnya seolah hanya dengan menatap, orang yang kutunggu akan keluar dan menyapaku. Sayangnya, aku tidak punya cukup keberanian untuk mengetuk pintu tersebut. Jadi, aku melangkahkan kakiku ke sebuah ruangan kosong dengan jendela kaca besar yang memperlihatkan kota kelahiranku ini.

 

Tiba-tiba terdengar derap langkah kaki di belakangku. Dengan spontan, aku membalikkan tubuhku sebelum menangkap sepasang bola mata yang familiar untukku. Sepasang bola mata yang meneduhkan dan menawarkan persahabatan selamanya. Dan satu-satunya orang yang memiliki sepasang bola mata indah itu ialah Kim Namjoon.

 

* * *

 

Banyak orang berkata bahwa cinta yang bersemi saat SMA hanyalah cinta semu yang pada akhirnya akan kandas. Tetapi aku tidak percaya dengan mitos itu karena seorang perempuan yang selalu mengerti jalan pikirku dan mimpi-mimpi yang ingin kuraih suatu saat.

 

Dulu kami hanya saling mengenal satu sama lain karena kami berada di kelas yang sama. Tetapi pada suatu malam di Hongdae, area para underground rapper berkeliaran, seorang perempuan berambut pendek dengan paras yang imut keluar dari salah satu bookstore sambil menenteng buku yang baru dibelinya di satu kantong. Toko buku itu terletak persis di sebelah area rap battle bulanan yang sedang kuikuti. Entah apa yang menariknya untuk menonton, tetapi yang jelas ia memperhatikan dengan seksama saat aku mulai perform dan melawan setiap kandidat pemenang di sana.

 

Ketika serangkaian acara tersebut selesai dan orang-orang mulai meninggalkan tempat itu, gadis itu masih berdiri di tempat yang sama sambil berjalan mendekat ke arahku. Saat ia telah menyamai posisiku, kami berjalan tanpa arah dan ia mulai membuka pembicaraan.

 

“Namamu Kim Namjoon, kan? Tadi kau sungguh keren. Aku tidak menyangka kau punya bakat terpendam selain otakmu yang cemerlang itu.”

 

“Benarkah?”

 

Rap-mu bagus, kawan. Saat diadakan acara seperti itu, kau benar-benar harus mengajakku. Aku bisa merasakan bagaimana setiap kata yang keluar dari mulutmu adalah sesuatu yang keluar dari hatimu. Sungguh daebak!”

 

Ekspresi dan mimik wajahnya saat mengatakan kalimat itu masih membuatku tersenyum geli. Rambutnya yang bergoyang ke sana kemari, barisan gigi putih yang diperlihatkannya, bahasa tubuhnya. Dia sungguh seseorang yang sangat lucu di balik kepribadiannya yang kadang dapat mengintimadasi orang lain, berjiwa pemimpin, dan dewasa.

 

Sejak itu, aku rutin mengajaknya ke Hongdae tiap kali ada acara rap dan oleh sejak itu, kami mulai berteman dekat. Aku mulai menyadari bahwa kami punya pemikiran yang sama dan dia memiliki sesuatu yang membuatku nyaman berada di dekatnya tanpa mempersoalkan urusan lain. She’s really a good friend.

 

Perjalanan persahabatan kami pada akhirnya harus berakhir saat aku mulai menjadi trainee dan ia harus melintasi benua untuk mengejar studinya. Selama itulah, kami tidak pernah berhubungan apapun dan tanpa kejelasan apapun. Ia hanya pergi meninggalkan Korea dan juga aku menyibukkan diriku untuk berlatih dan mendorong kemampuanku sampai limitnya.

 

Dapat kubilang tiga tahun ini bukan tahun-tahun mudah yang kulewati. Waktu tidur yang makin menipis, badan yang selalu dipaksakan untuk menari, otak yang digunakan untuk menulis lirik dan membuat serangkaian melodi. Itu semua adalah journey yang membangun apa yang ada di dalam diriku sekarang dan kehadirannya yang tiba-tiba muncul adalah layaknya sebuah penutup pintu kesengsaraanku karena saat aku melihat sosoknya, ada beban di atas pundakku yang langsung kandas terbawa angin.

 

Kedua matanya menatapku tegas seolah menyiratkan kebencian yang sangat mendalam karena putusnya hubungan kami dan matanya seakan menuntut penjelasan singkat dari diriku. Dalyeon sudah tumbuh menjadi seorang wanita sekarang. Ia membiarkan rambut panjangnya tergerai diterpa sinar matahari dan ia menarik sedikit sebelah kiri bibirnya seolah mencibirku.

 

“Park Dalyeon, my baby. Let me give you a welcoming ‎​hug.”

 

Aku melebarkan tanganku dan melingkarkannya di pinggangnya dan merasakan tubuh mungilnya berada di dekapanku, merasakan bahwa orang yang kutunggu-tunggu masih setia menunggu. Ia melingkarkan tangannya di leherku dan membenamkan wajahnya di dadaku seolah ia tidak ingin melepaskan kontak badan kami berdua sekarang.

 

“Aku merindukanmu, Dalyeon. Sangat, sangat merindukanmu. Kau juga, kan?” kataku sambil membelai rambutnya.

 

“Sebenarnya aku ingin menjawab pertanyaan bodohmu dengan cibiran tetapi aku terlalu bodoh untuk merindukanmu juga, idiot. I miss you too, Rap Monster.”

 

Ia menjawab sambil melepaskan pelukan eratnya sambil tersenyum dan bahkan aku berani bersumpah bahwa jika ia tidak bisa menahan emosinya, mungkin air matanya akan langsung deras menghujani wajah cantiknya itu. Selama sepersekian detik kami hanya diam, lalu tertawa karena atmosfer aneh yang langsung menyerang kami.

 

“Kau sudah tumbuh lebih tinggi dan lebih kekar. Tidak lupa menambahkan wajahmu yang makin tampan, Namjoonie. Pantas saja banyak perempuan di luar sana yang mengidolakanmu.”

 

“Tch, kau berlebihan nona. Kau juga hmmm … “

 

“Aku terlihat lebih garang, ya?”

 

“Kau tidak pernah berubah, macan kecilku. Kau tetap Dalyeon yang dulu. Manis dan imut dan di sisi lain kau sangatlah seperti seorang ibu mertua tetapi justru itu yang membuatku merindukanmu.”

 

“Kau yakin pembicaraan kita sekarang tidak mengganggu jadwal-mu?”

 

“Masih ada waktu sekitar lima menit sebelum recording. Jangan lupa untuk menonton performance-ku dari sisi panggung, okay?”

 

“Tentu, kawan. Tetapi lebih baik kau bersiap sekarang. Aku tidak mau ada fans yang menemukan kita dan akan mengejarku sampai hari kematianku tiba. Good luck.”

 

Persis setelah ia mengatakan itu, sebuah kecupan manis mendarat di pipi kananku. Aku berusaha mati-matian menahan semu merah yang sebentar lagi akan timbul di pipiku ketika melihat Dalyeon tersenyum manis ke arahku. Dengan segera aku membalas senyumannya lalu berjalan ke ruang ganti baju sebelum ia memanggilku dan membuat satu pertanyaan lagi yang kurasa akan mengusikku nantinya.

 

“Kim Namjoon, what am I to you?”

 

Sudah kubilang bahwa dia pasti akan menanyakan itu akhirnya. Aku membalikan badanku dan setengah mati berpikir jawaban apa yang harus kujawab. Awalnya aku akan menjawab sahabat dekat, lalu otakku menolak mulutku untuk berkata girlfriend, sebelum akhirnya aku menemukan sesuatu yang pas.

 

My favorite girl. Kau mau mendengar pernyataanku? Dengarkan mixtape-ku yang berjudul favorite girl, dan kau akan mengerti seluruh isi hatiku.”

 

“You’re, you’re my favorite girl

You’re still my favorite, favorite girl

My favorite, favorite girl

As time passes by

You’re still my favorite, favorite girl

My favorite, favorite girl”–Favorite Girl by Rap Monster

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s