Piece of Puzzle

pizap.com13726820407261

Berkutat dengan seluruh partitur lagu sepanjang hari membuat pandanganku sedikit pusing dan kabur. Sudah tidak terhitung lagi berapa kali aku mencoba untuk mengistirahatkan mata dan pikiranku dari tatapan kedua orangtuaku yang sangat mengintimidasi sambil duduk di sofa besar berwarna hitam mengawasi tiap gerak-gerik jari-jariku saat menari di atas tuts piano.

Ruang berbentuk kubus ini dilapisi oleh dinding kedap suara. Dimana di salah satu sudutnya dipajang sebuah rak besar kaca dengan seluruh penghargaan, medali, maupun sertifikat yang pernah keluarga kami dapatkan. Di tengah ruangan, tempat aku duduk sekarang, ada piano hitam berdiri kokoh yang merupakan salah satu benda terpenting di keluarga kami. Di beberapa sudut lainnya diletakkan microphone, gitar, biola, drum, dan rak yang memenuhi hampir seperempat luas ruangan ini. Rak berisi partitur lagu-lagu karangan Beethoven dan Mozart, lagu-lagu level rendah sampai advance, serta lagu-lagu karangan ayah dan ibuku.

Sebenarnya, aku selalu suka kehangatan ruangan ini saat aku kecil. Saat ayahku mengajarkanku membaca not balok ataupun mengajarkanku untuk bermain piano. Saat ibuku mengajarkanku menyanyi dan bermain biola bahkan memetik gitar sejak aku baru menginjak umur lima tahun. Tetapi sekarang semuanya telah berubah menjadi sebuah ruangan yang begitu ‘gelap’. Karena satu-satunya hal yang langsung hinggap di benakku ketika memasuki ruangan ini adalah seperti ruangan eksekusi yang siap membuat nyawaku melayang dalam beberapa menit.

Yang aku dapatkan sekarang adalah tatapan orangtuaku yang begitu marah tiap kali aku melakukan kesalahan, rasa tertekan untuk menjadi musisi sebesar mereka, dan segala macam rasa kegundahan yang selalu kudapatkan setiap kali menginjakkan kakiku di dalam ruangan ini.

 

You …go to bed right now.

Seketika aku tersentak dari lamunanku lalu secepatnya membereskan partitur lagu tersebut kemudian menaruhnya di atas piano dan mengucapkan selamat malam kepada kedua orang tuaku yang ternyata telah melengos lebih dulu keluar dari ruangan ini.

Beberapa langkah sebelum aku meraih gagang pintu kamar tidurku, seolah benakku memainkan ulang beberapa kejadian yang selalu membayangi diriku tiap kali aku mencoba untuk memejamkan mata, tiap kali aku harus pasrah pada keadaan diriku, dan tiap kali ada kekosongan di relung hatiku, bagai ada dirinya yang selalu mengisi tiap ruang di dalam hati dan benakku.

Bagaimana dia tertawa, bagaimana dia sedang berusaha untuk menghiburku, bagaimana dia bertindak seolah dia tidak tahu apa-apa padahal dialah ahlinya. Bagaimana dia dapat membuat hari-hariku berwarna layaknya pelangi. Dia mengajarkanku apa itu hidup, bagaimana itu hidup, bukan hanya dikurung di sebuah ruangan dipenuhi alat musik oleh kedua orangtuanya sendiri.

Kuraih gagang pintu kamarku kemudian menghempaskan tubuhku di kasur sambil memeluk guling dan mengintip dari balik jendela. Bulan purnama sedang memancarkan sinarnya di tengah pekatnya langit malam. Dan hatiku, aku berharap ada seseorang yang akan menjadi bulan di tengah pekat dan gelapnya hatiku.

***

“Jadi ini yang kau kerjakan setiap malam? Tak heran melihat dirimu tertidur lelap di sekolah sepanjang hari.”

Ketika melihat matanya yang berbinar saat ini, aku bisa menebak betapa gadis ini tidak pernah keluar dari penjaranya-maksudku rumahnya- barang sekali saja saat malam hari. Terlebih lagi, Time Square adalah tempat yang sangat tepat untuk memperlihatkan ramainya malam dengan banyak grup dance seperti kami akan unjuk kebolehan di beberapa titik keramaian.

“Kau tahu apa? Aku benci keadaan seperti ini, dengan pemandangan penuh orang yang dapat bebas mengekspresikan pikiran mereka tanpa takut dikurung di dalam rumahnya sendiri,” dia tersenyum getir lalu melanjutkan perkataannya, “kukira saat kecil rumah akan menjadi tempat favoritku di dunia ini, tetapi sayangnya mereka benar, semuanya dapat berubah.”

“Ada suatu hari dimana aku hanya ingin merasakan terbang dari atas Empire State Building atau bagaimana rasanya kabur dari rumah, bergabung bersama kalian, mungkin?”

Aku mengacak rambut gadis di depanku pelan sambil tersenyum manis kepadanya.

“Satu hal yang ingin kukatakan kepadamu adalah jangan menyesal. Mereka mengira kami semua bahagia tetapi nyatanya menari hanyalah pelarian dari masalah kami.”

Aku bergumam sambil mengajaknya duduk di salah satu anak tangga, “lagian sebentar lagi aku akan kembali kepada ayahku.”

Angin malam terasa lebih dingin daripada kemarin dan oleh karena itu aku menyampirkan jaketku di kedua pundaknya. Ia mengucapkan terima kasih sambil mengeratkannya. Keheningan merasuki atmosfer di sekitar kami, tidak ada yang berniat untuk memulai pembicaraan kecuali batin kami yang sedang berpikir dan merenungkan sesuatu. Kulihat lagi sosok di sebelahku yang sedang termenung dengan matanya yang teduh mengawasi tiap gerak-gerik orang-orang yang sedang berjalan lalu-lalang di depannya.

“Jadi?”

Seketika aku terbangun dari lamunanku setelah mendengar pertanyaan singkat yang dilontarkannya. Entah apa yang dimaksud tetapi aku mengerti bahwa dia menginginkan penjelasan yang lebih spesifik lagi soal keputusan bulat yang baru kubuat beberapa hari yang lalu.

“Aku akan tetap kembali, Liz. Aku telah bertemu dengan kedua orangtuaku, dan tebak apa yang mereka lakukan setelah melihat diriku mengatakan akan kembali ke rumah tersebut? Mereka menangis dengan penuh kasih sayang. Aku benci mereka, Liz. Sungguh, aku begitu membenci mereka tetapi seakan persepsiku tentang mereka seratus persen salah setelah melihat kejadian itu.”

“Tapi, Niel, aku …siapa yang akan menemaniku lagi?”

Matanya menunjukkan kesungguhan dan tatapan kecewa sedangkan mulutnya terkatup rapat setelah menyampaikan apa yang ada di pikirannya. Salah satu hal yang kupelajari dari karakter gadis ini adalah seorang gadis yang tidak peduli dengan terpaan angin, angin topan sekalipun, ia tidak akan roboh, ia akan tetap berdiri dengan tegap walaupun hatinya sedang menangis.

You’re the loveliest girl I’ve ever met, Liz. Semua orang menyukaimu. Lalu apa yang kau khawatirkan?”

“Aku hampir tidak percaya bahwa masih ada orang baik di dunia ini. Teman-temanku hanyalah orang-orang bodoh yang hanya menginginkan kepopuleran dan materi, mereka tidak mengerti apa itu persahabatan,” dia tersenyum mengejek lalu berkata, “sebenarnya ini terdengar sungguh hiperbola but maybe, I gotta admit it. I can’t live without you, Niel.”

“Mereka bilang satu-satunya alasan mengapa orang menjadi tangguh adalah saat satu-satunya pilihan mereka hanyalah menjadi lebih tangguh. And now, you only have one choice, and that’s to be tougher than before.”

“Lalu siapa yang akan meminjamkan pundaknya ketika aku muak dengan seluruh tekanan dari kedua orangtuaku?”

“Kedua orangtuamu menyayangimu lebih daripada aku, Liz. Memangnya selain menjadi seorang musisi, apa impianmu? Kau belum pernah menceritakan secuil pun informasi soal itu.”

To be your wife, maybe.”

Pipinya bersemu merah lalu bangkit berdiri kemudian berjalan meninggalkanku dengan tawa yang ditahan. Aku mengejarnya dan mendekapnya dengan erat sambil mengelus rambutnya pelan.

“Aku pegang janjimu nona. Oleh karena itu jangan sekalipun engkau melirik lelaki lain. Simpan ini di otakmu, oke?” Kataku sambil memencet jidatnya pelan, berimajinasi sedang memencet tombol ‘save’ di dalam benaknya.

“Oh ya, mungkin lain waktu, aku akan mengajakmu berlibur ke California.”

“Untuk apa?”

“Bertemu dengan calon mertuamu, tentunya.” Kataku sambil tertawa melihat dirinya yang hampir terlihat seperti tomat rebus.

“Because every little things that I’ve been through with you is like a piece of puzzle that complete each other.”

Advertisements

One thought on “Piece of Puzzle

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s