(EXO FanFiction) Memory

Memory

Kembali lagi ke ruangan dengan wallpaper awan di bagian belakang. Latihan, photoshoot, fitness, dan segudang aktivitas menguras tenaga lainnya. Seluruh member tergeletak tak beraturan di seisi ruangan. Chanyeol sedang berlatih rap bersama Kris di depan kaca sedangkan Kai, Sehun, serta Lay sedang mengulang koreografi lagu comeback kami. Para lead vocalist mengulang dan melatih kembali nada tinggi mereka. Tao sedang belajar bahasa Korea dengan Xiumin. Dan aku sedang terduduk di salah satu pojokan ruangan dengan earphone yang menyumbat kedua indra pendengaranku. Seketika aku bangun menghampiri manager kami yang sedang berada tepat di luar pintu.

“Hyung, kau tak keberatan jika aku keluar sebentar, bukan?”

“Tepat jam lima, kau kembali lagi, Kim Joonmyeon, tidak ada alasan.”

***
Aku melangkahkan kakiku keluar, berbelok ke kanan, menggunakan lift untuk turun ke lantai satu kemudian merapatkan hoodie-ku seraya berjalan keluar. Seketika indra penglihatan dan pendengaranku langsung dipertajam. Kulihat beberapa orang sedang mengambil fotoku di dekat parkiran mobil ataupun beberapa orang yang berdesas-desus melihat seorang leader EXO-K berkeliaran di tengah sore hari ini.

Sebuah kafe kecil yang biasa ramai di jam-jam pulang kerja ini terlihat lebih ‘damai’ daripada biasanya. Tanpa ada mahasiswa atau mahasiswi yang sedang mengerjakan project mereka atau beberapa karyawan atau manager yang memilih untuk menghabiskan waktu mereka di salah satu pojokan tempat ini. Hanya ada beberapa pekerja di belakang counter dengan wajah mereka yang terus melirik arloji mereka menunggu jam shift mereka habis.

Segelas Lattè hangat tersaji di hadapanku dengan kepulan kopi yang menyerbak masuk ke dalam hidungku. Dalam sejenak benakku beristirahat dari segala latihan vokal, latihan koreografi rutin yang terus-menerus meninggalkan kantung mata hitam di seluruh member. Kami hampir tidak punya waktu untuk mengistirahatkan badan kami kecuali saat tidur dengan waktu yang benar-benar minim.

Sebuah sosok tiba-tiba masuk dari pintu cafe tersebut. Dia masih sama seperti dahulu dengan rambut kemerahan dan mata bulatnya yang indah, kulit putihnya yang membuat seluruh warga sekolah iri kepadanya, dan senyuman yang dapat membuat seluruh perhatianku tertuju kepada perempuan ini.

Jangan bertanya mengapa aku tidak pernah mengatakannya kepada dia. Bukan karena entertainment-ku yang melarang para artisnya untuk menjalin hubungan atau aku terlalu malu untuk menyampaikannya, tetapi aku menyukai bagaimana kami akan merasa dekat sebagai sahabat. Aku tidak meminta lebih daripada itu, aku hanya ingin menyimpan dirinya sebagai salah satu orang yang pernah mengisi lembaran-lembaran dalam kehidupanku serta selalu berada di dalam relung hatiku, tersimpan dan terkunci rapat tanpa dirinya mengetahuinya.

Kau tahu apa? Hadiah terindah seseorang bukanlah sebuah hadiah mahal dan ucapan dari banyak orang, kadang kita melupakan bagaimana suatu kesederhanaan itu merupakan hal yang istimewa dalam hidup kita. Dan aku mendapatkan hadiah itu tahun ini, sebuah memori yang akan terus membekas di dalam benakku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s